untitled lyrics


oleh simple plan

I open my eyes
I try to see but I’m blinded
By the white light
I can’t remember how
I can’t remember why
I’m lying here tonight
And I can’t stand the pain
And I can’t make it go away
No I can’t stand the pain
How could this happen to me?
I’ve made my mistakes
Got no where to run
The night goes on
As I’m fading away
I’m sick of this life
I just wanna scream
How could this happen to me?
Everybody’s screaming
I try to make a sound
But no one hears me
I’m slipping off the edge
I’m hanging by a thread
I wanna start this over again
So I try to hold on to
A time when nothing mattered
And I can’t explain what happened
And I can’t erase the things that I’ve done
No I can’t
How could this happen to me?
I’ve made my mistakes
Got no where to run
The night goes on
As I’m fading away
I’m sick of this life
I just wanna scream
How could this happen to me?
I’ve made my mistakes
Got no where to run
The night goes on
As I’m fading away
I’m sick of this life
I just wanna scream
How could this happen to me?

Rintihan Roh


Diriwayatkan: “Jika roh telah keluar dari tubuh manusia dan telah lewat tiga hari, maka roh itu berkata: “Wahai Tuhanku, perkenankanlah aku sehingga aku berjalan dan melihat tubuhku yang dahulu aku berada di dalamnya.” Maka Allah memperkenankan kepadanya. Lalu ia datang ke kuburnya dan melihat kepadanya dari jauh. Kedua lubang hidungnya dan mulutnya mengalir darah. Maka ia menangis dengan suatu tangisan yang cukup lama. Lalu ia merintih, aduuuh hai tubuhku yang miskin, wahai kekasihku. Ingatlah akan hari kehidupanmu. Rumah ini adalah rumah serigala, bala bencana, rumah yang sempit, rumah kesusahan dan penyesalan.


Setelah lewat lima hari roh berkata: “Wahai Tuhanku, perkenankanlah aku untuk melihat tubuhku.” Maka Allah memperkenankannya. Lalu ia datang ke kuburnya dan melihat dari jauh. Dan mengalirlah kedua lubang hidung dan mulutnya berupa air nanah.
Firman Allah SWT bermaksud:

Mereka tidak dapat berbicara pada hari roh (Jibril atau ruhul qudus) dan para malaikat berdiri dengan berbaris.” ( An-Naba’: 38)

Disebutkan dalam satu keterangan, bahawa yang dimaksud roh itu adalah rohnya anak Adam (manusia), dan keterangan yang lain mengatakan bahawa roh itu adalah rohnya malaikat Jibril as. Juga ada keterangan yang menyebutkan bahawa roh itu adalah rohnya Nabi Muhammad SAW yang berada di bawah Arasy, ia minta izin dari Allah di malam Lailatul Qadar untuk turun memberikan salam penghormatan kepada seluruh mukminin dan mukminat dan roh itu berjalan melalui mereka.
Ada pula yang menyebutkan bahawa roh itu adalah rohnya para kerabat yang sudah mati, mereka berkata: “Wahai Tuhan kami, semoga Engkau memperkenankan kami untuk turun ke rumah-rumah kami, sehingga kami melihat anak-anak kami dan ahli-ahli kami. Maka roh-roh itu turun pada malam Lailatul Qadar.

Sebagaimana Ibnu Abbas ra mengatakan: “Jika datang Hari Raya, hari Asyura’, hari Jumaat yang pertama dari bulan Rajab, malam Nisfu Sya’ban, Lailatul Qadar, dan malam Jumaat, roh-rohnya para mayat semua keluar dari kubur mereka dan mereka semua berdiri di pintu-pintu rumahnya seraya berkata: “Belas kasihanlah kamu semua kepada kami di malam yang berkah ini dengan sedekah satu suap, sebab kami memberikan sedekah. Jika kalian bakhil dengan sedekah, dan kamu sekalian tidak mahu memberikannya, maka hendaklah kalian mengingat kami dengan bacaan surah Al-Fatihah di malam yang penuh keberkahan ini.

Adakah seorang telah belas kasihan kepada kami, apakah dari salah seorang ada yang mengenangkan ratapan kami wahai orang yang menempati rumah-rumah kami, wahai orang yang menikmati wanita (isteri kami), wahai orang yang berdiri memperluas mahligai kami yang sekarang kami dalam kesempitan kubur kami, wahai orang yang membagi harta benda kami, wahai orang.yang menyiakan anak yatim kami. Adakah salah seorang dari kamu sekalian ada yang mengenang perantauan kami? Buku amal kami dilipat dan kitab amal kalian dibuka. Dan bukanlah bagi mayat yang berada dalam liang kubur melainkan pahalanya. Maka janganlah kalian melupakan kami dengan sebuku rotimu dan doamu, sebab kami orang-orang yang berhajat kepada kamu sekalian, selama-lamanya.

Jika mayat memperoleh sedekah dan doa dari mereka maka ia kembali dengan riang gembira, dan jika ia tidak memperoleh maka ia pulang dengan sedih dan duka serta terhalang, dan putus asa dari mereka.

Telah diterangkan, bahawasanya roh dalam perkumpulan haiwan tidak dalam seluruh tubuh, tapi ia dalam satu bahagian dari beberapa bahagian yang tidak dapat ditentukan dengan dalil. Bahawasanya seorang dilukai dengan luka-luka yang banyak maka ia tidak mati. Dan ia dilukai dengan luka-luka satu maka ia menjadi mati. Sebab luka itu jika menimpa pada tempat di mana roh bertempat di mana roh di dalamnya, dan bahawasanya roh bertempat pada seluruh tubuh dan bahawasanya mati itu dalam seluruh tubuh, maka Firman Allah SWT menunjukkan:
Katakanlah: “la akan dihidupkan oleh Tuhan yang menciptakannya kali yang pertama.” 
(Yaa Siin: 79)

Jika dikatakan, apakah bedanya antara roh dengan rawan? Maka kita katakan hahwa keduanya adalah satu. Keduanya tidak ada perbedaan, sebagaimana tubuh serta tangan adalah menjadi satu. Cuma kalau tangan dapat bergerak kesana kemari tapi kalau tubuh sama sekali tidak bergerak. Demikian pula rawan kesana kemari tapi sama sekali tidak bergerak.

Kemudian mengenai tempatnya roh di dalam tubuh tidak dapat ditentukan. Adapun tempatnya rawan di antara kedua alis. Maka jika roh itu hilang seorang hamba menjadi mati, dan jika rawan hilang ia menjadi tidur. Sebagaimana air yang dituangkan qas’ah dan ditaruh di rumah ada matahari yang sinarnya melalui lubang atap dan qas’ah itu tidak bergerak dari tempatnya.
Maka demikian halnya roh bertempat di dalam tubuh dan pusatnya berada di Arasy. Adapun rawan melihat dikala bermimpi dan ia berada di alam malakut.

Adapun tempatnya roh setelah dicabut, ada diterangkan bahawa tempatnya disengkala yang didalamnya terdapat lubang sejumlah bilangan haiwan-haiwan yang dijadikan sampai hari kiamat. Jika ia mendapat kenikmatan berada di situ dan jika mendapat azab maka di situ pula.
Ada disebutkan bahawa roh-roh para mukminin berada dalam telur burung yang hijau di syurga iliyyin, adapun rohnya orang-orang kafir berada dalam telur burung yang hitam di neraka. Dan ada dikatakan bahawa rohnya para mukminin ketika dicabut, maka para malaikat rahmat sama mengangkat membawa naik roh ke langit yang tujuh dengan memuliakan dan mengagungkan. Kemudian dipanggil Zat pemanggil dari sisi Allah yang Rahman: “Hendaklah kamu semua menulis roh itu dalam Illiyyin lalu kembalikanlah ke bumi.”

Maka mereka mengembalikan roh seorang mukmin ke dalam tubuhnya dan ia dibukakan pintu syurga, ia melihat tempatnya di syurga sampai datangnya hari kiamat. Dan bahawasanya rohnya orang-orang kafir sewaktu dicabut maka para malaikat azab sama membawa naik roh itu ke langit dunia. Maka ditutuplah pintu-pintu langit yang lain dan ia diperintah mengembalikan ke tempat berbaring tubuhnya, kuburnya disempitkan dan ia dibukakan pintu neraka. Oleh kerananya ia melihat tempat kediamannya kelak sampai datangnya hari kiamat. Dalam hal ini sebagaimana pernah disabdakan Nabi SAW, sehingga bahawasanya mereka mendengar suara sandal-sandal kalian, hanya saja mereka terhalang dari berkata.

Sebahagian Hukama’ ditanya tentang tempat roh-roh setelah mati, maka ia menerangkan sebagai berikut:

1. Bahawasanya roh-roh para Nabi berada dalam Syurga Adn, ia berada dalam liang yang menyenangkan tubuhnya. Adapun tubuh bersujud kepada Tuhannya.
2. Roh-roh para Syuhada berada di syurga Firdaus, pada tengahnya syurga itu berada dalam telih burung yang hijau yang terbang di syurga sekehendak hatinya. Kemudian datang keqanadil yang digantungkan di Arasy.
3. Adapun roh-rohnya anak-anak kecil yang Islam berada dalam telih burung pipitnya Syurga.
4. Roh-rohnya para anak-anak musyrik berputar-putar di syurga dan ia tidak punya tempat, sampai hari kiamat. Lalu mereka melayani para mukminin.
5. Roh-rohnya orang-orang mukmin yang mempunyai hutang dan aniaya digantung diangkasa. Ia tidak sampai ke syurga dan tidak pula ke langit sampai ia membayar hutangnya dan penganiayaannya.
6. Roh-rohnya orang-orang Islam yang berdosa diazab dalam kubur beserta tubuhnya.
7. Roh-rohnya orang-orang kafir dan munafik dalam penjara neraka Jahannam dipintakan diwaktu pagi dan petang.

Dan disebutkan, bahawasanya roh adalah merupakan jisim yang halus. Oleh kerana itu tidak dapat dikatakan jika Allah itu mempunyai roh. Sebab mustahil kalau Allah mempunyai tempat seperti jisim-jisim. Dan dikatakan bahawa roh adalah merupakan sifat dan dikatakan pula kalau ia pecah jadi angin, maka kedua perkataan ini adalah perkataannya orang yang mengingkari adanya seksa kubur.

Ada diceritakan, bahawasanya seorang Yahudi datang kepada Nabi SAW, maka mereka bertanya kepada baginda tentang roh dari Ashabi Raqim dan dari Raja Dzil Qarnain. Dengan perdebatan Yahudi itu maka turunlah surah Al-Kahfi.

Dan diturunkan tentang haknya roh adalah Firman Allah SWT.
“Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh, katakanlah: “Roh itu termasuk urusan Tuhanku.”

Kau masih membawa wanita itu?


Oleh Eyang Hakimi


Matahari baru terbit. Sinarnya yang lembut belum cukup untuk mengeringkan tetes embun. Di depan pondoknya di pinggir hutan kakek itu membiarkan dadanya yang bidang dihangatkan oleh sinar matahari pagi. Usianya sudah lewat 60 tahun tapi karena kesehariannya ia adalah seorang guru silat, tubuhnya masih terlihat kekar. Otot-ototnya menampakkan kekuatan yang tersembunyi dalam raga wadagnya. Tak lama kemudian ia mengikat kepalanya dengan destar. Dan lengkaplah kegagahannya. Di dunia persilatan tak ada pesilat yang tidak tunduk kepadanya. Jangan kata pesilat dekat-dekat, pesilat dari seberang lautan yang sengaja datang untuk mencoba kedigjayaannya paling kuat bertahan hanya dalam 4 jurus.



Dia sangat disegani dalam dunia persilatan. Jujur, bijak, bajik, sederhana. Suaranya lembut ketika berbicara. Bertolak belakang dengan keadaan badannya yang menimbulkan kesan berkoar. Hari ini ia akan turun hutan (bukan turun gunung karena tidak tinggal di gunung). Ia masih menunggu murid kecilnya bangun. Ia membiarkan muridnya menyambung tidur setelah kegiatan mereka sejak dinihari hingga fajar tampak. Mengulang 40 jurus yang telah diajarkan oleh sang guru, ketika dingin pagi, dengan perut yang hanya diisi segelas air hangat dan sebongkah kecil gula merah, ketika anak-anak kecil seusianya masih lelap. Murid kecil ini memang berbakat. Tak ada keluhan yang keluar dari mulutnya, Jika gurunya memberi celah kesempatan yang dimintanya ialah izin untuk tidur.

Tak banyak yang bertahan lama menjadi murid. Disiplin yang tinggi, peraturan yang sangat ketat, membuat mereka kabur dari padepokan. Dan sang guru hanya senyum untuk semua kejadian itu. Pendekar ini sangat pinilih mengangkat murid. Tak sembarang orang tak sembarang anak. Banyak yang ditolaknya. Jika memaksa ia tidak menahan. Silakan tinggal di padepokan. Tapi memang pada awalnya sudah ditolak mereka yang memaksa itu kalah dalam serangan, tidak memenangi peperangan, bahkan tidak sedikit yang kalah sebelum berperang. Murid kecil yang satu ini punya cerita unik. Saat sang pendekar melakukan perjalanan ia lewat di sebuah desa, Di ujung kampung, dekat kuburan, ia melihat seorang anak sedang menangis terisak-isak. Ia berhenti dan dengan lembut ia bertanya.

“Mengapa kau menangis?”
“Saya sedih kek..”
“Hah, kau menyebutku kakek? Apakah aku sudah tua?”
“Sudah kek, rambut kakek, kumis kakek, jenggot kakek, sudah putih semua.”

Sang Pendekar terkesima. Ya, betul. Jika aku punya isteri, aku punya anak, dan anakku punya anak lagi, itu cucuku, dan aku ya kakek.

“Siapa namamu?”
“Johan.”
“Bapakmu?”
“Sadap”
“Ibumu?”
“Komariah”
“Ibumu di mana sekarang.”
“Di sana.”
Johan menunjuk ke sebuah tumpukan tanah sambil melap matanya dengan ujung lengan bajunya. Sementara ingus hijau meleleh dari hidungnya, mengalir lewat bibirnya. Tapi dengan sebuah hentakan isap ingus itu masuk kembali.

“Bapakmu”
“Pergi menyadap.”
“O, bapakmu tukang sadap aren, membuat gula aren?”
“Ya..”
“Di mana rumahmu?”
“Itu…”

Anak kecil itu menunjuk ke sebuah gubuk di seberang kuburan.

“Ayo antar aku ke rumahmu, aku ingin bertemu dengan bapakmu. Kebetulan aku juga perlu gula aren.”

Kedua orang itu –tampak sebagai kakek dan cucu- berjalan. Yang tua di depan.
“Johan, dulu aku pernah punya murid bernama Johan. Dia anak seberang, dari Malaka. Dia kusebut Johan Malaka. Kau mau tidak kuberi nama Johan Sedih. Aku beri nama itu karena aku bertemu denganmu ketika engkau merasa sedih. Kenapa kau merasa sedih?”
“Aku dipukuli anak kampung.”
“Wah, kenapa kau tidak melawan?”
“Aku takut.”

Sunyi sebentar. Terdengar langkah mereka di tanah becek pekuburan.

“Kakek siapa?”
Johan Sadap menggeliat. Ia terbangun. Sang Pendekar senyum dan tak lama kemudian ia sudah siap dengan kaneronnya. Melihat ini Johan Sadap sigap bangkit, dan siap berangkat juga. Mereka –masih tampak sebagai kakek dan cucu- berjalan beriringan. Yang tua di depan. Kebisuan dalam perjalanan akhirnya cair oleh suara Johan Sadap.

“Kalau sudah besar aku juga tidak akan punya isteri. Aku ingin seperti guru. Perempuan itu membuat tenaga kita lemah. Perempuan itu membuat “chi” kita bocor.”

“Johan!”
“Ya, guru.”
“Kamu tahu “chi” itu apa?”
“Tidak guru.”
“La, kamu bisa bicara begitu dari mana, mendengar dari siapa?”
“Kan guru yang bicara.”
“Kapan, di mana?”
“Di pondok, waktu ada Pendekar Toba.”
“O, ya. Aku ingat. Johan”
“Ya guru.”
“Lain kali jika ada tamu kau harus jauh-jauh dari pondok ya.”
“Ya, siap guru.”
“Aku tidak beristeri karena aku telah bersumpah, jangankan beristeri, menyentuhnyapun aku tidak akan.”
Johan Sadap diam. Ia paham nada bicara gurunya. Dalam keadaan seperti ini lebih baik diam. Sunyi kembali. Desir angin ditingkah siulan burung meramaikan irama langkah di jalan setapak yang mereka lewati.Matahari sepenggalah mereka sampai ke sungai. Kampung tak jauh lagi dari sungai ini. Jika sungai ini telah diseberangi dan mereka mekanjutkan perjalanan diperkirakan mereka akan sampai sekitar tengah hari. Tiba-tiba dari kejauhan terlihat seorang wanita. Wanita itu tampak bingung.

“Guru, ada wanita.”
“Ya, aku tahu.”
“Tunggu di sini.Aku akan ke sana.”
“Guru.”
“Tunggu di sini!”
Johan mengiringi langkah gurunya dengan pandangan matanya. Semakin jauh darinya tapi semakin dekat kepada wanita itu. Lalu ia kaget. Matanya tak berkedip. Ia melihat gurunya menggendong wanita itu ke seberang. Lalu gurunya menghampirinya lagi.

“Ayo, kita lanjutkan perjalanan. Gunakan deras arus ini untuk melatih kuda-kudamu agar kuat.”
“Guru..”
“Ayo!”
Dan Johan Sadap masih di tengah sungai ketika gurunya sudah duduk di sebuah batu di seberang sana. Tantangan ini harus kulewati. Aku harus bisa. Kalau mau guru bisa saja menggendongku. Wanita tadi jauh lebih besar dari aku. Tapi guru melatihku untuk tabah. Tak ada pohon yang tumbuh subur dengan pupuk minyak wangi, begitu kata guru. Dan ini adalah pupuk. Baru saja Johan Sadap sampai ke pinggir gurunya telah berdiri, siap untuk melanjutkan.

“Guru..”
“Kau kuat, ayo berangkat.”
Setelah mendaki bukit dan menuruni lembah lembah beberapa kali mereka sampai. Di ujung kampung mereka istirahat.


“Satu kali istirahat, sampai juga ‘kan?”
“Ya guru.”
“Kau tidak mati ‘kan?”
“Tidak guru.”
“Nah sebentar lagi kau akan bertemu dengan bapakmu.”
“Terima kasih guru.”
“Ayo, bangkit. Bapakmu rindu. Dua tahun ia tidak melihatmu.”
“Guru….”
“Apa?”
“Boleh Johan bertanya.”
“Tanya apa?”
“Guru bersumpah untuk tidak menyentuh wanita tapi tadi aku melihat guru menggendong wanita dan menyebarangkannya.”
“Johan..Johan…kau masih membawa wanita itu? Alangkah beratnya bebanmu.”
Murid kecil termangu-mangu. Butuh waktu yang lama bagi Johan Sadap untuk dapat memahami kata-kata gurunya.

Kotabaru, 19 Januari 2009.

A Faithful Woman vs. An Atheis


Once upon time in Bantul Jogyakarta lived an elderly faithful lady, Marsinah,

who was well-known for her faith and for her confidence in talking about it.
She would stand in front of her house and say "God be praised"
to all those who passed by.

Next door to her lived an atheist, Suyono, who would get so
angry at her proclamations he would shout, "There ain't no Lord!!"

Hard times came upon Marsinah, for the last two months she only ate “nasi aking”
(dried rice) and she prayed for God to send her some assistance.
She would pray out loud in her night prayer "Oh God! I need food!!
I am having a hard time, please Lord, PLEASE LORD, SEND ME SOME
GROCERIES!!"

One night Nyono happened to hear her as she was praying, and
decided to play a prank on her. The next morning Marsinah went out on her porch
and found a large bag of groceries.
She raised her hands and shouted, "God be praised!."

Nyono jumped from behind a bush and said, "Aha!
I told you there was no Lord. I bought those groceries, God didn't."

The old Marsinah laughed and clapped her hands and said, "GOD BE PRAISED.
He not only sent me groceries, but he made the devil pay for them!"

Beauty of Mathematics


Beauty of Mathematics

Absolutely amazing!

1 x 8 + 1 = 9 
12 x 8 + 2 = 98 
123 x 8 + 3 = 987 
1234 x 8 + 4 = 9876 
12345 x 8 + 5 = 98765 
123456 x 8 + 6 = 987654 
1234567 x 8 + 7 = 9876543 
12345678 x 8 + 8 = 98765432 
123456789 x 8 + 9 = 987654321 

1 x 9 + 2 = 11 
12 x 9 + 3 = 111 
123 x 9 + 4 = 1111 
1234 x 9 + 5 = 11111 
12345 x 9 + 6 = 111111 
123456 x 9 + 7 = 1111111 
1234567 x 9 + 8 = 11111111 
12345678 x 9 + 9 = 111111111 
123456789 x 9 +10= 1111111111

Waiting for the end lyrics

Waiting for The End
(Linkin Park)

This is not the end,
This is not the beginning,
Just a voice like a riot
Rocking every revision
But you listen to the tone
And the violent rhythm,
Though the words sound steady,
Something empty's within 'em,

We say "Yeah!"
With fists flying up in the air,
Like we're holding onto something
That's invisible there,
'Cause we're living at the mercy of
The pain and the fear
Until we dead it, forget it,
Let it all disappear.

Waiting for the end to come
Wishing I had strength to stand
This is not what I had planned
It's out of my control

Flying at the speed of life
Thoughts were spinning in my head.
So many things were left unsaid.
It's hard to let you go...

(Oh!) I know what it takes to move on,
I know how it feels to lie,
All I wanna do
Is trade this life for something new,
Holding on to what I haven't got

Sitting in an empty room
Trying to forget the past
This was never meant to last,
I wish it wasn't so...

(Oh!) I know what it takes to move on,
I know how it feels to lie,
All I wanna do
Is trade this life for something new
Holding on to what I haven't got!

What was left when the fire was gone?
I thought I found right but that right was wrong.
All caught up in the eye of the storm.
I'm trying to figure out what it's like - moving on.
And I don't even know what kind of things I've said,
My mouth kept moving and my mind went dead.
So picking up the pieces, now, where to begin?
The hardest part of ending is starting all again.

All I wanna do
Is trade this life for something new,
Holding on to what i haven't got!..

This is not the end,
This is not the beginning,
Just a voice like a riot
Rocking every revision
But you listen to the tone
And the violet rhythm,
Though the words sound steady,
Something empty's within 'em
(Holding on to what I haven't got!)

We say "Yeah!"
With fists flying up in the air,
Like we're holding onto something
That's invisible there,
'Cause we're living at the mercy of
The pain and the fear
Until we get it, forget it,
Let it all disappear!
(Holding on to what I haven't got!)

hampa


hidup ini bisa terasa menyenangkan atau menyedihka, itu semua adalah emosi yang kita miliki. tapi bagaimana jika rasanya hampa tidak dapat merasakan sedih,senang,kesal, ataupun emosi lainnya. itu membuat dunia menjadi tidak indah dan berwarna lagi. setiap emosi dan perasaan yang kita miliki itu adalah goresan warna dalam hidup kita yang sesungguhnya membuat dunia menjadi berwarna dan terkihat indah. diumpamakan hidup seperti kertas putih, dengan setiap kejadian yang terjadi di hidup ini menorehkan warna dan menjadikannya sangat indah dari setiap kenangannya. bagaimana bisa hidup tidak bisa merasakan apapun hanya tetap selembar kertas putih yang tidak pernah terkena warna? hidup menjadi hampa. lalu apa gunanya untuk meneruskan hiduo ini jika tidak dapat memberi warna pada hidup?

Kado dari seorang pahlawan tanpa tanda jasa


oleh Kakek Hakimi (pahlawan tanpa tanda jasa)


Perjuangan bukanlah kata yang hanya berhenti dalam pengucapan tapi harus diikuti dengan tindakan nyata dengan ketekunan dan ketabahan.
Rindu adalah bunga cinta dan kasih sayang yang bisa membekas dalam bentuk derita, kenalilah cinta sehingga kau tidak terkena deritanya.
Ada, dan banyak sekali, orang yang bisa berkata bahwa surga di bawah telapak kaki ibu tapi karena kebodohan pemahamannya maka yang mereka lakukan adalah mencuci kaki sang ibu lalu meminum air cucian kaki itu.
Malam, banyak digunakan oleh banyak orang besar di dunia untuk melayarinya dengan banyak membaca.
Empati yang mendalam bisa menjadikan kita paham bahasa semesta.
Siapa yang pertama kali menikmati manisnya keberhasilan dan siapa pula yang pertama kali merasakan pahitnya kegagalan.
Tingginya puncak akan kalah oleh ketinggian tekad untuk meraih cita-cita.
Indah budi meski hanya satu macam lebih indah dari sejuta kata.

Waktu adalah pedang yang paling tajam meski tak pernah terhunus.
Ukur berat beban yang akan diangkat agar tidak menghempas diri.
Lebih baik manakah antara kalah dalam penyerangan tapi memenangkan peperangan atau menang dalam penyerangan tapi kalah dalam peperangan.
Adakalanya, dan sering terjadi, kegagalan itu disebabkan oleh hal kecil yang luput dari pengamatan dan perhitungan.
Naiklah terus ke puncak tertinggi sampai terjawab pertanyaan apa sebenarnya yang diinginkan setelah puncak terinjak.
Dari sekian banyak perumpamaan yang menggambarkan keteguhan tekad dan semangat, batu karang di tepi laut berombak ganas adalah yang paling gagah.
Air dalam kelemahannya yang sangat terlihat mempunyai kekuatan yang sangat hebat.
Ramai dalam kesunyian atau sunyi dalam keramaian tampak seperti hal yang tidak mungkin tapi ini adalah salah satu kunci untuk mencapai cita-cita.
Indahnya dunia tak akan pernah ada tanpa keindahan Indonesia,

langit oranye


langit bandung sore yang berwarna oranye. sangat indah dan untungnya dapat terfoto dengan baik walau hanya menggunakan hp. 

cream mash potato

sarapan pagi kali ini adalah mash potato kentang yang dicampur dengan keju lalu dibentuk bulat disimpan ditengah lalu dituang cream soup. setelah itu diberi potongan-potongan nugget di sekelilingnya. terlihat cukup cantik dengan rasa yang nikmat dan tentu saja mengenyangkan.

traktiran jadian zz~

salah satu teman mentraktir di pizza hut karena dia baru jadiaaan. sukses ya semoga langgeng dan bahagia terus. sering-sering traktiran boleh juga tuh mantaaaaap hahahahah~

RBL

teringat kelompok RBL FMIPA ITB 2012 setelah bersusah payah untuk mebuat hot air baloon hahaha
 
Free Website templatesMusiczik.netfreethemes4all.comLast NewsFree CMS TemplatesFree CSS TemplatesFree Soccer VideosFree Wordpress ThemesFree Blog templatesFree Web Templates